Bangunan Berbentuk Stupa Ikonik Asia Tenggara

Bangunan berbentuk stupa atau pagoda dengan stupa-stupa raksasa memang menarik perhatian, khususnya bagi wisatawan. Keberadaan jenis bangunan ini kerap menjadi ikonik bagi daerah bahkan sebuah negara. Sebab, bangunan seperti ini memang indah ditambah lagi karena memiliki detil-detil yang cukup unik. Keunikannya bisa dikarenakan usianya, desainnya yang rumit, serta keindahannya bahkan kemegahannya.
Seperti Candi Borobudur di Jawa Tengah Indonesia, bangunan ini dibuat sekitar abad ke 9 dan mencerminkan kecermelangan para seniman Jawa kuno saat berekspresi budaya di masa lalu. Terdapat 2.672 ukiran relief dan 600 patung dan stupa Buddha. Saat ini Candi Borobudur adalah tempat wisata terpopuler di Indonesia dan paling indah khususnya disaksikan saat matahari terbit.
Lalu, ada Pagoda Shwezigon atau Shwezigon Paya, di Nyaung-U, dekat Bagan, Myanmar. ‘Shwezigon’ dilengkapi atap tradisional ‘Burma’ yang khas, dibangun pada tahun 1807 oleh Raja Anawrahta dan diselesaikan  Raja Kyanzitta. Bangunan ini merupakan sebuah stupa raksasa setinggi 98 meter (321,5 kaki) yang berlapis emas. Ternyata pagoda ini merupakan prototype pembangunan terhadap Pagoda Shwedagon ikonik di Myanmar.
Stupa Buddhist ini dinilai yang paling suci bagi bangsa Burma karena menyimpan relik Buddha terdahulu, yaitu tongkat ‘Kakusandha’, saringan air ‘Konagamana’, sepotong jubah ‘Kassapa’, dan delapan helai rambut ‘Siddharta Gautama’, Buddha historis. Puncak menara kubah atau stupa ditutupi lebih dari 5.000 berlian dan 2.000 batu rubi, bahkan paling atas terdapat permata 76 karat. Di bagian Tenggara terdapat patung 37 Nat (spirit) yang dipercaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Burma. Salah satu pagoda yang tertua di Bagan Shwezigon ini diakui sebagai yang ke 37 Nat oleh Kerajaan Burma.
Kemudian, ada That Dam, bangunan stupa terletak di pusat Vientiane Laos. Bangunan ini populer disebut sebagai ‘Stupa Hitam’ karena warnanya yang gelap yang memperlihatkan usianya yang cukup tua. Stupa ini dipercaya telah ada sejak abad ke 16.
Wat Phra Luang, di Provinsi Lampang Thailand Utara, juga memiliki arsitektur luar biasa dengan ‘Lan Na Art’. Fortifikasi tetap tiga benteng dan dua parit yang mengesankan. Wat Phra That Lampang Luang merupakan candi berbentuk stupa yang sangat berharga dan sudah ada sejak zaman kuno. Konon, bangunan ini sudah ada sejak Ratu Chamadevi, sekitar akhir abad ke-20.
Malaysia memiliki bangunan Dhammikarama Burmese Temple, Pulau Penang. Bagian tertua dari candi adalah stupa yang ditahbiskan pada tahun 1805. Hal ini diabadikan dalam sebuah stupa luar yang dibangun pada tahun 1838, bersama-sama dengan ruang upacara dijaga oleh sepasang gajah batu.

 

1

MYANMAR: Pagoda Shwezigon atau Shwezigon Paya, terletak di Nyaung-U, dekat Bagan, Myanmar, merupakan prototype pembangunan Pagoda Shwedagon (juga berada di negara yang sama). ‘Shwezigon’ dilengkapi atap tradisional Burma yang khas, dibangun tahun 1807 oleh Raja Anawrahta dan diselesaikan oleh Raja Kyanzitta.

2

LAOS: ‘That Dam’, bangunan stupa terletak di pusat Vientiane, Laos. Bangunan ini populer disebut sebagai ‘Stupa Hitam’ karena warnanya yang gelap yang memperlihatkan usianya yang cukup tua .

3

INDONESIA: Candi Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia, dibuat sekitar abad ke 9 yang menyimbolkan kecermelangan para seniman Jawa kuno dalam mengapresiasi budaya di masa lalu. Terdapat 2.672 ukiran relief dan 600 stupa Buddha.

4

THAILAND: Wat Phra Luang, di Lampang Thailand Utara, dengan ‘Lan Na Art’ dan arsitektur yang luar biasa.
Sumber : http://harian.analisadaily.com/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Konservasi Bangunan Jawa Timur “ CANDI JAWI-PASURUAN”

Candi Jawi atau dengan nama asli Jajawa adalah candi yang dibangun sekitar abad ke-13 dan merupakan peninggalan bersejarah Hindu-Buddha Kerajaan Singhasari yang terletak di terletak di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia, sekitar 31 kilometer dari kota Pasuruan. Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan – Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.

1

 

Candi Jawi menempati lahan yang cukup luas, sekitar 40 x 60 meter persegi, yang dikelilingi oleh pagar bata setinggi 2 meter. Bangunan candi dikelilingi oleh parit yang saat ini dihiasi oleh bunga teratai. Bentuk candi berkaki Siwa, berpundak Buddha. Ketinggian candi ini sekitar 24,5 m, panjang 14,2 m dan lebar 9,5 m. Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah dengan atap yang bentuknya merupakan paduan antara stupa dan kubus bersusun yang meruncing pada puncaknya. Pintunya menghadap ke timur. Posisi pintu ini oleh sebagian ahli dipakai alasan untuk mempertegas bahwa candi ini bukan tempat pemujaan atau pradaksina (upacara penghormatan terhadap dewa, disebut Dewayadnya atau dewayajña), karena biasanya candi untuk peribadatan menghadap ke arah gunung, tempat yang dipercaya sebagai tempat persemayaman kepada Dewa. Candi Jawi justru membelakangi Gunung Penanggungan. Sementara ahli lain ada pula yang beranggapan bahwa candi ini tetaplah candi pemujaan, dan posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung karena pengaruh dari ajaran Buddha.

2

Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dalam masa pemerintahan Hindia Belanda karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali tahun 1975-1980, dan diresmikan tahun 1982. Kini biaya pemeliharaan didapatkan dari sumbangan sukarela dari pengunjung maupun LSM lainnya.

Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi isinya berkurang. Arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya. Lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan yang lainnya lagi, seperti arca Brahmana, tidak ditemukan. Mungkin saja sudah berkeping-keping.

Di gudang belakang candi memang terdapat potongan-potongan patung. Selain itu, terdapat pagar bata merah seperti yang banyak dijumpai di bangunan pada masa Kerajaan Majapahit, seperti Candi Tikus di Trowulan dan Candi Bajangratu di Mojokerto.

 

Sumber: http://dinantikasalsabila.blogspot.co.id/2015/04/konservasi-bangunan-jawa-timur.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KONSERVASI ARSITEKTUR JAWA TENGAH

Konservasi Stasiun Tawang Semarang

SEJARAH

1

Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu stasiun kereta api besar tertua di Indonesia yang melayani pengangkutan penumpang untuk jalur Semarang Tawang menuju Tanggung (Grobogan). Stasiun ini diresmikan pada tanggal 1 Juni 1914, dan pada 29 April 1911 merupakan peletakan batu pertama oleh perusahaan yang mengelolanya yaitu Netherland Indische Spoorweg maatschappij (NIS) dengan rancangan bangunan dari arsitek Sloth – Blauwboer. Sebagai stasiun yang dipersiapkan untuk menjadi pintu kedatangan tamu, Stasiun Tawang dirancang sebagai bangunan yang anggun dengan karakter bangunan berlanggam Romanticism yang populer di Eropa pada masa itu yang dipersiapkan untuk perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol (Tentoonstelling).

 

Pada awal beroperasinya, tidak ada jalur kereta api yang menghubungkan antara stasiun Semarang Tawang dan Semarang Poncol, dua-duanya merupakan stasiun ujung atau kopstation. Stasiun Semarang Poncol melayani kereta api dari/ke menuju barat (Cirebon) dan stasiun Semarang Tawang melayani kereta api dari/ke timur (Solo dan Yogyakarta). Ini dikarenakan bahwa kedua stasiun tersebut milik dua perusahaan kereta api yang berbeda yaitu NIS dan SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij). Akibat jaringan kereta api yang terpisah, masing-masing perusahaan itu mempunyai stasiun yang terpisah pula. Keadaan ini cukup merepotkan, tidak hanya bagi penumpang tapi (terutama) untuk angkutan barang. Baru ketika awal pemerintah Jepang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1942/1943, kedua stasiun itu dapat dihubungkan dengan jalur kereta api karena kedua perusahaan kereta api itu digabungkan oleh pemerintahan Jepang di Indonesia.

 

ARSITEKTUR

Bangunan membentuk siluet simetris dengan bangunan utama di tengah yang beratap kubah tinggi sebagai vocal point serta sayap-sayap bangunan di kanan kirinya yang didominasi oleh atap pelana dari genteng merah dengan bukaan-bukaan atap sebagai variasi. Bentuk bangunan yang simetris itu merupakan salah satu ciri arsitektur kolonial yang merupakan perpaduan antara langgam desain yang populer di Eropa dengan penyesuaian terhadap iklim lokal tropis melalui penggunaan atap pelana serta banyak bukaan untuk penghawaan.

Tidak banyak ornamen yang dijumpai, karena gaya arsitektur Romaticism yang populer di Eropa pada awal abad ke 20 lebih menekankan pada komposisi dan proporsi elemen-elemen garis dan bidang-bidang bukaan sebagai ornamen bangunan. Komposisi bidang-bidang bukaan pada tembok yang kokoh serta atap kubah membentuk kemegahan bangunan ini.

2

Ruang-ruang pada bangunan Stasiun Tawang disusun secara linier dengan pintu masuk utama yang berada di tengah sebagai orientasi. Ruang di bawah kubah merupakan vestibule atau hall dengan langit-langit yang tinggi. Atap kubah membentuk langit-langit persegi memberikan pencahayaan atas yang memperkuat kesan megah ruangan ini. Empat kolom utama yang menyangga atap kubah sepintas mirip dengan bagian tengah sebuah pendapa joglo. Bagian ini diperindah dengan empat lampu hias serta jendela kaca memanjang di sekeliling bangunan bagian atas.

Ornamen paling menonjol pada bangunan Stasiun Tawang adalah pintu-pintu utama serta jendela ventilasi atas yang berbentuk lengkung yang dipertegas dengan bingkai konstruksi Arch pasangan batu bata di tepi atasnya. Pada ujung lengkungan bata tersebut diakhiri dengan moulding dari semen dan keramik warna dan material yang berbeda dari elemen – elemen bukaan (pintu, jendela, dan ventilasi) tersebut menjadi ornamen yang mempercantik arsitektur Stasiun Tawang. Cornice berupa ballustrade/pagar pembatas atap datar di atas pintu-pintu tersebut memperkuat akhiran atas dari komposisi itu.

3
Sayap bagian kanan merupakan ruang tunggu kelas satu, ruang kepala stasiun, ruang sinyal serta ruang-ruang operasional. Sayap kiri merupakan ruang tunggu kelas dua dan kelas tiga yang pada masa kolonial diperuntukkan bagi pribumi. Ruang-ruang tersebut berderet di sepanjang concourse (peron) membentuk model stasiun satu sisi dengan peron dan sepur yang terletak sejajar dengan bangunan stasiun. Peron dan sepur dinaungi atap pelana yang memanjang sejajar dengan struktur rangka baja dan penutup seng gelombang.

4

Dalam finishing ruang, dominasi warna putih menutup hampir semua tembok bagian dalam serta cokelat tembaga sebagai penghiasnya. Dari penelitian para arsitek pencinta bangunan bersejarah, material dasar bangunan stasiun ini pada waktu didirikan berasal dari batu yang dilapisi semen tumbukan bata merah dan kapur. Cat yang dipergunakan juga masih sederhana, hanya kapur.

Namun sungguh sayang akibat perkembangan kota Semarang yang semakin pesat serta sistem tata kota yang belum pas dengan kondisi kota pinggir pantai maka stasiun Semarang Tawang sering digenangi banjir akibat hujan atau rob (rembesan air laut jika permukaan laut pasang). Penyebab banjir, selain curah hujan yang tinggi tiga hari berturut-turut dan air pasang laut Jawa, juga hilangnya area resapan di sebelah utara stasiun. Rawa yang dahulu melingkupi bagian utara stasiun sejak 1985 berubah menjadi pemukiman. Banjir merupakan hantu yang harus dihadapi bangunan Stasiun Tawang. Namun, gunungan sampah di tambak sebelah timur stasiun juga musuh utama yang harus dihadapi. Dampaknya, perjalanan kereta api melalui jalur utara di Jawa menjadi terganggu. Untuk mengatasi masalah itu telah tiga kali dilakukan pengurukan lantai bangunan. Ketinggian bangunan telah berkurang 1.5 meter akibat peninggian itu. Tak hanya bangunan yang ditinggikan, jalan rel pun ikut ditinggikan.

 

SUMBER : http://vraymozeart.blogspot.co.id/2015/04/konservasi-arsitektur-jawa-tengah.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KONSERVASI MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT dan UPAYA PNINGKATANNYA

Pendahuluan

Tujuan dibangunnya Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat adalah sebagai Museum Sejarah Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dikenal oleh masyarakat dengan istilah “Monju” (Monumen Perjuangan). Monju memiliki koleksi yang peristiwa-peristiwa kesejarahan di wilayah Jawa Barat yang ditata di ruangan pameran tetap. Koleksi berupa diorama-diorama dan relief-relief kesejarahan Jawa Barat. Akan tetapi koleksi tersebut sangat kurang memadai dan hingga sekarang koleksinya belum bertambah..  Monju belum mengelola koleksi, merawat, dan memublikasikan koleksi secara optimal.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 menyatakan museum mempunyai tugas pokok menyimpan, merawat, dan memanfaatkan benda-benda bukti hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. ICOM (International Council of Museums)  telah merumuskan definisi  museum yaitu lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, mengkomunikasikan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu bagaimana agar Monju dapat melaksanakan tugas dan fungsi sebagai museum? Upaya-upaya apa yang harus dilakukan Monju?. Berdasarkan hal tersebut maka kami akan mencoba mencari solusi bagi permasalahan tersebut dan diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pengelola Monju.

 

Pembahasan

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat terletak di Jalan Dipati Ukur No. 48, Kota Bandung. Lokasinya berhadapan dengan Gedung Sate dan di depan Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Kota Bandung. Monumen berdiri di atas tanah seluas ± 72.040 m² dan luas bangunan ± 2.143 m². serta model bangunannya, berbentuk bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Monumen diresmikan penggunaanya oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995.

Monju memiliki koleksi hanya berupa 7 buah diorama pada ruang pameran tetap, dan tidak sebanding dengan luas ruangan pameran tetap, sehingga banyak area pameran tetap yang masih kosong belum terisi koleksi. Ada pun koleksi diorama pada ruang pameran tetap tersebut adalah:

  1. Diorama Perjuangan Sultan Agung Tirtayasa Bersama Rakyat Menentang Kolonial Belanda Tahun 1658
  2. Diorama Partisipasi Rakyat Dalam Pembangunan Jalan di Sumedang
  3. Diorama Perundingan Linggarjati 1946
  4. Diorama Bandung Lautan Api 24 Maret 1946
  5. Diorama Long Mach Siliwangi Januari 1949
  6. Diorama Konfrensi Asia Afrika di Bandung 1955
  7. Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962.

Di samping itu terdapat relief pada bagian dinding depan Monju. Relief ini menceritakan sejarah perjuangan rakyat  Jawa Barat  mulai dari masa kerajaan, masa pergerakan, masa kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan dalam melawan penjajahan baik Belanda, Inggris dan Jepang.

Selain itu Monju dilengkapi pula oleh ruang audiovisual, dan ruang perpustakaan yang akan digunakan sebagai sarana dalam memberikan informasi sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat bagi pengunjung. Akan tetapi untuk bahan informasi melalui audiovisual masih belum memadai. Monju juga mempunyai halaman yang luas, mushola, dan toilet yang nyaman untuk memberikan pelayanan bagi pengunjung.

Monumen adalah bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting karena itu dipelihara dan dilindungi oleh Negara. Dengan demikian Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat adalah bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah perjuangan bangsa khususnya dalam merebut, menegakkan, membela, dan mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah peristiwa bersejarah yang telah terjadi di lokasi monumen ini?. Apakah peristiwa sejarah tentang perjuangan para pemuda dalam mempertahankan Gedung Sate terhadap tentara NICA?  Menginggat lokasi Monju dan Gedung Sate berdekatan, mungkin dapat menjadi salah satu alternatif bahwa lokasi Monju mempunyai peristiwa sejarah perjuangan yang memiliki nilai-nilai kepahlawanan.

Dari nama “Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat”, jelas bahwa museum ini juga merupakan tempat penting yang bertujuan dapat mengungkapkan dan menjelaskan berbagai hal menyangkut sejarah perjuangan kemerdekaan, baik dalam perjuangan menegakkan, membela, dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI, maupun dalam perjuangan menentang kehadiran dan usaha Belanda yang hendak memulihkan kembali kedudukan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di wilayah Jawa Barat. Selain itu juga bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan peran para pejuang dan peristiwa-peristiwa sejarah perjuangan bangsa di wilayah ini.

Monju diharapkan dapat bermanfaat bagi rakyat pada umumnya yaitu:

  1. Menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
  2. Membangkitkan semangat nasionalisme dan kebanggaan nasional
  3. Melestarikan jiwa dan semangat kepahlawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
  4. Menanamkan keteladanan bagi generasi penerus dalam kesinambungan perjuangan bangsa mengisi kemerdekaan
  5. Menyajikan informasi kesejarahan di kalangan masyarakat pada umumnya.

Monju memiliki peran yang cukup signifikan sebagaimana tersebut di atas, oleh karena itu perlu diupayakan peningkatannya sebagai berikut:

  1. Membuat Visi dan Misi Monju sesuai dengan Visi dan Misi Propinsi Jawa Barat, kesejarahan Jawa Barat dan definisi Museum. Melalui visi dan misi dapat dirumuskan apa yang diharapkan dan yang akan dilakukan oleh Monju. Oleh karena itu perlu kerjasama dari berbagai kalangan pemerintahan, akademisi, dan masyarakat/LSM sehingga dirumuskan visi dan misi Monju. Visi dan Misi ini akan menjadi acuan pengelolaan Monju.
  2. Monju harus menambah koleksi melalui pembelian dalam bentuk benda realia atau pembuatan replika, pembuatan diorama, dan pencetakan dokumentasi foto kesejarahan. Oleh karena itu perlu diprogramkan kegiatan pembelian atau pembuatan replika koleksi yang dimiliki masyarakat. Selain juga masyarakat dapat menitipkan koleksinya di Monju agar koleksi itu terpelihara namun tetap disebutkan nama penyumbang koleksi benda cagar budaya tersebut. Menambah jumlah diorama dan mencetak foto kesejarahan sebagai bahan materi pada ruang pameran tetap Monju.
  3. Koleksi pada ruang pameran tetap Monju, apabila bertambah jumlahnya perlu di tata ulang dengan mempertimbangan estetika, sarana dan prasarana pameran, pencahayaan, sirkulasi udara dan arus pengunjung. Sekarang ini sirkulasi udara pada ruangan-ruangan dalam monju kurang memadai sehingga udara dalam ruangan panas dan baunya apek (kurang enak). Menata koleksi pada ruangan smoking area pameran tetap perlu bekerjasama dengan kurator museum, sejarawan, disain interior atau arsitektur, sehingga penataan koleksi, estetika, sirkulasi udara, dan sinar/cahaya akan dapat mencegah kerusakan koleksi dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
  4. Membuat atau pengadaan bahan dokumentasi visual. Membuat dokumentasi merupakan kegiatan mendokumentasikan kegiatan Monju dalam hal pengadaan koleksi, konservasi, penataan pameran, dan publikasi koleksi melalui rekaman film. Sedang pengadaan adalah pembelian dokumentasi film tentang museum lainnya dan pengelolaannya. Kedua dokumentasi visual ini dapat digunakan untuk bahan publikasi kepada masyarakat dan dapat ditayangkan di Ruang Audivisual.
  5. Sosialisasi Monju mengenai koleksi museum dan pengelolaanya dapat dilakukan melalui undangan ke sekolah-sekolah di Kota/Kab. Jawa Barat untuk berkunjung ke pameran tetap monju, sosialisasi ke sekolah-sekolah, penyelenggaraan pameran temporer, berbagai lomba tingkat pelajar, ceramah, seminar, lokakarya, penerbitan leaflet, dan lainnya. Bahkan mengalang kerjasama lintas sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta maupun asing dalam berbagai kegiatan.
  6. Meningkatkan SDM Museum melalui keikutsertaan pada diklat-diklat, pendidikan formal, seminar, dan lokakarya tentang permuseuman.

Monju sejak April 2010 dikelola oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai  Tradisional (BPKSNT), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat. Dengan demikian mengelola, mengembangkan dan memanfaatkan Monju agar dapat berguna bagi masyarakat Jawa Barat merupakan salah satu tugas BPKSNT selain pengelolaan kepurbakalaan, sejarah dan nilai tradisional Jawa Barat. Dengan demikian Monju sebagai tempat perlindungan, pelestarian dan penginformasiaan koleksi museum kepada masyarakat agar masyarakat lebih mengenal sejarah bangsanya dan diharapkan tumbuh rasa nasionalisme bangsa Indonesia

Sumber:http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/stcontent.php?id=60&lang=id#sthash.a1xYUvDC.dpuf

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KONSERVASI MUSEUM BAHARI

Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa, tepatnya di jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, menghadap ke Teluk Jakarta. Museum ini adalah salah satu dari delapan museum yang berada di bawah pengawasan dari Dinas Kebudayaan Permuseuman Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

 

Sejarah Museum Bahari

Masa penjajahan yang ada di Indonesia menyisakan berbagai macam peninggalan, terutama dalam wujud arsitektur bangunan. Salah satu fungsi bangunan yang cukup penting pada masa tersebut adalah gudang penyimpanan rempah-rempah. Para penjaajah datang ke Indonesia salah satunya adalah untuk mengambil hasil rempah-rempah yang dihasilkan dari Indonesia (sebagai negara yang menghasilkan rempah-rempah terbesar). Sebelum akhirnya rempah-rempah tersebut diimport atau diekspor ke mancanegara, rempah-rempah di simpan di dalam suatu tempat/gudang penyimpanan. Gudang penyimpanan terletak pada daerah yang dekat dengan pelabuhan hal ini untuk memudahkan akses penyimpanan. Museum Bahari adalah bangunan yang dialihfungsikan dari gudang penyimpanan rempah-rempah peninggalan zaman penjajah dan dijadikan bangunan museum yang berisi dengan barang-barang bersifat kelautan.

Pada masa pendudukan Belanda, gedung Museum Bahari semula adalah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. VOC membangun gedung ini secara bertahap sejak 1652 hingga 1759.

WGedung Museum Bahari ini sudah mengalami beberapa perubahan. Tahun perubahan itu dapat dilihat pada pintu-pintu masuk. Di antaranya tahun 1718, 1719 dan 1771. Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya ketika perang dunia II meletus (1939-1945) gudang tersebut menjadi tempat logistik peralatan militer tentara Dai Nippon. Setelah Indonesia Merdeka difungsikan untuk gudang logistik PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan PTT (Post Telepon dan Telegram). Pada 1976 kompleks gedung ini diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta yang kemudian dipersiapkan sebagai sebuah museum. Museum Bahari diresmikan pemakaiannya pada 7 Juli 1977.

Luas tanah bangunan ini sekitar 9.000 m2 dan luas bangunannya mencapai 16 ribu m2. Bangunan ini sudah tiga kali di renovasi, yaitu tahun 1976, 1980, dan 2009. Meski telah direnovasi, tapi tidak menghilangkan ciri khas dari museumnya.

 

Museum Bahari ini memiliki keunikan yaitu keberadaan koleksi kapal yang sudah tak diproduksi lagi. Di perut Museum Bahari tersimpan benda-benda sejarah berupa kapal dan perahu-perahu asli maupun miniatur. Mengingatkan kepada kita bahwa sejak jaman dahulu kala ‘nenek moyangku seorang pelaut’. Ada kebanggaan ‘kebaharian’ dari bangsa pemberani di dalam mengarungi samudra luas dan ganas. Selain itu, dari segi arsitekturnya bangunan ini memiliki ciri khas bangunan yang terbuat dari kayu.

Sumber : http://museum-bahari.blogspot.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Bahari

http://www.indonesia.travel/id/destination/535/museum-bahari

http://lukmanfahri.blogspot.com/2014/07/tugas-konservasi-arsitektur-museum.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KONSERVASI BADAK UJUNG KULON

Rhinoceros Sondaicus (bukan Rhinocerus Javaicus) yang secara harfiah berarti Badak Sunda yang bercula satu dan satu-satunya di dunia yang berada di Ujung Kulon ramai dibicarakan. Banyak pihak menentang keras atas wacana yang dikemukakan pihakWorld Wide Foundation (WWF) tentang rencana untuk membuat 2ndpopulation/habitat atau habitat kedua di luar Banten. Reaksi ini tentu dapat dimaklumi, mengingat Badak Ujung Kulon selama ini sudah menjadi icon (ciri khas) masyarakat Banten, terlebih lagi bagi masyarakat Kabupaten Pandeglang.

Konon – sebagaimana diakui pihak Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) – akurasinya belum bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, populasi salah satu jenis hewan langka di dunia itu kini jumlahnya hanya sekitar 64 ekor. Mengingat pihak BTNUK belum memiliki teknologi yang canggih, maka metode yang dipakai untuk mengetahui populasinya dilakukan dengan menghitung jejak langkah kaki berdasarkan ukurannya serta kotorannya saja.

Hal ini memicu banyak pertanyaan publik ; memangnya badak itu masih ada? Jangan-jangan kita hanya meributkan sesuatu yang tidak jelas? Demikian kira-kira diantara pernyataan yang muncul, sebagaimana juga muncul dari ketua Indonesian Tourism Club dalam seminar masa depan pariwisata Banten yang diselenggarakan Litbang Radar Banten (29/8). Disini pihak terkait memang perlu menjelaskan kepada publik secara resmi. Namun untuk megurangi rasa penasaran melalui pertanyaan publik di atas, penulis nyatakan bahwa badak Ujung Kulon masih ada. Salah satu bukti bahwa badak itu masih ada, pada pertengahan Juni yang lalu petugas WWF sempat merekam seekor badak yang sedang berendam di salah satu bibir pantai Ujung Kulon dengan durasi sekitar 4 menit yang diperlihatkan di ajang diskusi konservasi badak di carita pada tanggal 22 Agustus yang lalu.

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang terkategorikan sebagai salah satu world heritage site/situs peninggalan dunia, disebut-sebut sebagai kawasan yang kini terancam, khususnya ancaman kepunahan badak yang dalam tradisi lisan Baduy disebut Si Putri itu. WWF menyebutkan beberapa ancaman dimaksud, diantaranya: pertama, bencana alam gempa tektonik yang berpusat di sekitar pulau Panaitan yang memungkinkan melahirkan tsunami serta ancaman letusan anak gunung Krakatau; kedua, banyaknya tanaman langkap (sejenis palem) yang mengakibatkan berkurangnya rumput pakan badak; ketiga, keberadaan banteng yang sudah over population dan menguasai pakan badak; keempat, perubahan iklim, dimana pemanasan global saat ini sudah mencapai 0,8 dari 2o yang menjadi batas toleransi, termasuk perubahan vegetasi.

Di Indonesia, badak Sunda dahulu diperkirakan tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Di Sumatera saat itu badak Sunda tersebar di Aceh sampai Lampung. Di Pulau Jawa, pernah tersebar luas di seluruh Jawa, dan kini hanya terdapat di Ujung Kulon, Banten. Pada tahun 1833 masih ditemukan di Wonosobo, 1834 di Nusakambangan, 1866 di Telaga Warna, 1867 di Gunung Slamet, 1870 di Tangkuban Perahu, 1880 di sekitar Gunung Gede Pangrango, 1881 di Gunung Papandayan, 1897 di Gunung Ceremai dan pada tahun 1912 masih dijumpai di sekitar daerah Karawang. Frank pada tahun 1934 telah menembak seekor badak Sunda jantan dari Karangnunggal di Tasikmalaya, sekarang specimennya disimpan di Museum Zoologi Bogor. Menurut catatan merupakan individu terakhir yang dijumpai di luar daerah Ujung Kulon.

Pada tahun 1910 badak Sunda sebagai binatang liar secara resmi telah dilindungi Undang-Undang oleh Pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1921 berdasarkan rekomendasi dari The Netherlands Indies Society for Protection of Nature, Ujung Kulon oleh pemerintah dinyatakan sebagai Cagar Alam. Keadaan ini masih berlangsung terus sampai status Ujung Kulon diubah menjadi Suaka Margasatwa di bawah pengelolaan Jawatan Kehutanan dan Taman Nasional pada tahun 1982.

Di Ujung Kulon populasi badak pada tahun 1937 ditaksir ada 25 ekor (10 jantan dan 15 betina), dan pada tahun 1955 ada sekitar 30-35 ekor. Pada tahun 1967 di Ujung Kulon pertama kalinya diadakan sensus badak Sunda yang menyebutkan populasinya ada 21-28 ekor. Turun naiknya populasi badak selain adanya kelahiran anak, juga dipengaruhi oleh adanya perburuan. Setelah pengawasan yang ketat terhadap tempat hidup badak, populasi badak Sunda terus meningkat hingga kira-kira 45 ekor pada tahun 1975. Menurut hasil sensus sampai tahun 1989 diperkirakan tinggal 52-62 ekor. Sensus pada Nopember 1999 yang dilaksanakan oleh TNUK dan WWF diperkirakan 47 – 53 ekor.

Badak Sunda mungkin merupakan mamalia besar paling langka di dunia dimana hanya 50 – 60 yang bertahan hidup di seluruh dunia. Terlepas dari segelintir individu di Taman Nasional Cat Tien di Vietnam, keseluruhan populasi di dunia hanya dijumpai di satu lokasi: Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten. Tidak heran hewan ini tercantum sebagai Yang Sangat Terancam dalam IUCN Red List of Threatened Species [Daftar Merah Spesies Yang Terancam dari IUCN]. Perburuan badak bercula-satu ini secara keseluruhan berhenti di tahun 1990-an, tetapi pelanggaran terhadap hak atas hutan dan ekstraksi ilegal di seputar taman menimbulkan ancaman yang berlangsung terus-menerus .

PERTUMBUHAN POPULASI BADAK JAWA DI SEMENANJUNG UJUNG KULON

DARI DATA HASIL SENSUS (1967 – 1993)

Tahun Minimum Maksimum Rata-rata Sumber
1967 21 28 24.5 Schenkel & Schenkel (1969)
1968 20 29 24.5 idem
1969 22 34 28.0 PPA
1970 tidak ada sensus
1971 33 42 37.5 PPA
1972 40 48 44.0 PPA
1973 38 46 42.0 PPA
1974 41 52 46.5 PPA
1975 45 54 49.5 PPA
1976 44 52 48.0 PPA
1977 44 52 48.0 PPA
1978 47
46
57
55
52.0
50.5
PPA
Amman (1980)
1979 tidak ada sensus
1980 54
57
62
66
58.0
61.5
PPA
Amman (1980)
1981 51
54
77
60
64.0
57.0
PPA
Sadjudin, dkk (1981)
1982 53 59 56.0 PPA
1983 58 69 63.5 PPA
1984 50 54 52.0 Sadjudin & PHPA (1984)
1985
1988 tidak ada referensi
1989 52 62 57.0 Santiapillai, dkk (1989)
1993 35 58 47.0 Griffiths (1993)

Sumber : Strategi Konservasi Badak Indonesia – Dirjen PHPA Dephut RI (1994)

Sensus terakhir dilaksanakan tahun 2003 yang melibatkan 70 personel berasal dari BTNUK, WWF, LSM internasional dan lokal, Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran, dan masyarakat sekitar Desa Ujung Jaya serta Tanjung Jaya Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang. Metode yang digunakan adalah penghitungan jejak transek atau jalur pengamatan bersifat permanen yang berada pada 15 lintasan badak. Melalui metode itu dilakukan pengukuran tapak kaki sehingga dapat diketahui ada tidaknya pertambahan populasi.

Metode transek digabungan dengan hasil pengamatan yang dilakukan tim Rhinoceros Monitoring and Protection Unit (RMPU). Tim permanen ini bertugas mencatat temuan badak, baik secara langsung maupun hanya berupa tanda keberadaannya yang ditunjukkan dengan jejak, kotoran, kubangan, air kencing, dan bekas makanan. Data di BTNUK menunjukkan, trend perkembangbiakan badak Sunda mengalami pertumbuhan turun naik. Puncak populasi tertinggi tercatat pada 1981, 1982 dan 1984 dengan jumlah 63 ekor. Habitat badak Sunda tersebar pada areal seluas 38.543 hektare di kawasan tertutup Semenanjung Ujung Kulon.

 

 

Wacana 2nd Population

2nd population (populasi kedua) Badak Ujung Kulon sebenarnya merupakan gagasan yang digulirkan pihak WWF sejak tahun 1995. Yakni gagasan tentang kemungkinan untuk membantu perkembang biakan (penambahan habitat) badak. Dengan cara mengambil sepasang badak pilihan, yang atas dasar kajian ilmiah merupakan bibit unggul.

Pemikiran dimaksud dijabarkan dalam beberapa tahapan diantaranya dengan melakukan kajian untuk memilih/menetapkan habitat yang sesuai; pemilihan individu yang cocok sebagai founder (berdasarkan DNA); proses adaptasi, yakni dilokalisir sebelum dipindahkan; proses pemindahan; dan pemantauan pasca pemindahan. Pemilihan habitat baru ini sendiri terdiri dari 13 ktireria yang ideal. Sedangkan kandidat lokasi yang disebutkan adalah Taman Nasional Gunung Halimun Gunung Salak (TNGHS) seksi Lebak, Taman Nasional Berbak – Westlands International di Jambi dan Rimba Harapan – Birdlife di Jambi. Namun survey yang sudah dilakukan 2 tahun terakhir baru di TNGHS dengan para ilmuwan Institut Pertanian Bogor (IPB). Sedangkan TN Berbak dan Rimba Harapan baru mengandalkan data sekunder dari Birdlife, rapid assessment.

Pemilihan founder sendiri akan didasarkan pada informasi genetik yang akan membangun kerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Columbia University serta memanfaatkan para ahli translokasi dari India dan Nepal. Adapun dalam proses adaptasi, pihak WWF menyebutkan fasilitas semi-captive dan pemantauan kesehatan yang intens serta melihat kemampuan adaptasi/seleksi. Sedangkan dalam proses pemindahan hal yang harus dipersiapkan adalah capture (bius atau perangkap), togging / radio collar serta transportasi dari lokasi ke fasilitas adaptasi dan transportasi dari fasilitas adaptasi ke habitat yang baru. Dalam perencanaan disebutkan juga pemantauan pasca pemindahan, diantaranya protocol pemantauan kesehatan, pemantauan perilaku, rapid response unit di habitat baru, pemantauan home range dan pola makan.

Jika gagasan tadi direalisasikan, bisa dibayangkan betapa banyaknya waktu, biaya, tenaga dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan. Sebab itu belum termasuk bagaimana melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar habitat baru. Pertanyaan yang paling mendasar adalah, siapa yang menjamin bahwa sepasang badak itu akan selamat, aman dan mampu berkembang biak sebagaimana yang diinginkan?

Tentu saja gagasan tersebut diharapkan sesuatu yang tulus dengan niatan menjalankan amanah Tuhan untuk menjadi rahmatan lil’alamin (dalam hal ini menyelematkan Badak dari kepunahan) dan bukan sebagai project oriented.

Solusi Alternatif

Seperti diungkapkan di awal, gagasan WWF langsung mendapat reaksi keras dari masyarakat Banten termasuk pemerintah daerah setempat. Berita ini sempat mewarnai beberapa media cetak dan elektronik. Secara umum semuanya menolak gagasan tersebut. Alasannya Badak adalah icon Banten-icon Pandeglang. Reaksi ini menandakan betapa masyarakat Banten begitu cinta dan bangga akan Badak Cula Satu yang hanya ada di Ujung Kulon. Akan tetapi rasa bangga dan sikap menolak wacana pemindahan saja tidak cukup untuk melindunginya dari kepunahan. Rasa bangga dan cinta tadi akan sangat bermanfaat bagi badak itu sendiri manakala ditunjukkan dengan adanya langkah konkret yang dilakukan.

Terlepas dari persoalan di atas, penulis justru ingin fokus pada konservasi Badak Sunda di Ujung Kulon itu sendiri. Apa yang sudah dan akan kita lakukan untuk melindunginya di habitat aslinya itu? Alasan adanya ancaman gempa tektonik yang dapat mengakibatkan tsunami atau anak gunung Krakatau meletus, siapa yang tahu akan bencana itu? Alasan banyaknya pohon langkap yang memunahkan rumput pakan badak, mengapa tidak ditebangi langkap itu? Apa yang sudah BTNUK & WWF lakukan mengantisipasi dominasi langkap di TNUK?

Disebutkan pula bahwa keberadaan banteng saat ini sudah over-population yang menguasai pakan badak, mengapa tidak si banteng saja yang kita pindahkan? Atau dalam gagasan nyeleneh melokalisirnya di suatu areal tertentu yang kemudian dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendongkrak dunia pariwisata melalui “Berburu Banteng Ujung Kulon” secara terbatas?.

Disadari atau tidak, yang terlupakan dan menjadi ancaman besar lainnya, hemat penulis adalah konflik yang selama ini terjadi antara masyarakat di sekitar (buffer zone) kawasan TNUK dengan aparat Polisi Hutan (Polhut) dari pihak Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK). Ini justru yang menjadi ancaman utama yang harus segera dicarikan jalan penyelesaiannya.

Caranya yang penulis tawarkan adalah dengan melakukan resolusi konflik melalui pendekatan budaya, (bukan pendekatan kelembagaan atau scientific – yang orang awam justru tidak faham sama sekali, apalagi pendekatan represif). Melalui pendekatan ini tentu tidak bisa dilakukan hanya oleh salah satu pihak, BTNUK saja misalnya. Bagaimana konsep konservasi badak bisa dilaksanakan sebagaimana harapan, disinilah kesadaran seluruh stake holders untuk menggunakan pola kolaborasi. Stake holders dimaksud menurut Prof. Hadi Alikodra dari IPB adalah pemerintah pusat melalui otoritas yang diberikan kepada BTNUK, pemerintah daerah, masyarakat lokal yang langsung menngunakan sumber daya, masyarakat lokal yang memiliki kepentingan secara tidak langsung dengan sumber daya, individu atau group yang secara legal memiliki kegiatan komersial pemanfaatan sumber daya langsung/pengusaha, mereka yang datang untuk memanfaatkan sumber daya yang sering menyebabkan terjadinya kerusakan, penghasil limbah, suppliers, supporter perguruan tinggi, LSM, konservasionis serta konsumen yang menggunakan souvenir, tokoh masyarakat lokal.

Oleh karenanya dalam konteks ini, kita jangan bermimpi menjadi seorang Superman, lupakan Robinhood dan abaikan hasrat untuk menjadi pahlawan sendiri. Yang harus dilakukan untuk menyelamatkan badak cula satu adalah bentuk konsorsium; bekerja bersama-sama (tidak sekedar bersama-sama bekerja), siapa bisa melakukan apa dan siapa berperan sebagai apa. Toh meski tidak tercatat sebagai seorang syuhada/pahlawan di mata rakyat melalui publikasi media, Malaikat kan tidak tidur apalagi lupa mencatat amal baik kita?!. Wallahu’alam bisshawab.

Sumber : http://udaysuhada.blogspot.co.id/2008/11/konservasi-badak-ujung-kulon.html

Lebel          :  EDISI NOVEMBER 2007, MAJALAH REKAYASA TERBITAN BAPEDA BANTEN

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kawasan Konservasi Edukatif di Utara Jakarta

Tidak banyak yang tahu, di antara hutan tembok Jakarta masih tersedia hutan bakau (mangrove) di pesisir utaranya. Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) adalah rumah bagi beraneka jenis burung dan satwa yang kini pastinya sulit ditemukan kembali di wilayah Jakarta. Kawasan sekira 25.02 ha ini telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam sejak 1939 dengan status cagar alam. Berikutnya berubah status menjadi suaka margasatwa sejak tahun 1998. Inilah kawasan konservasi yang edukatif dan akan menggugah kesadaran tentang pelestarian lingkungan.

Secara biologi fungsi dari pada hutan mangrove antara lain sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi biota yang hidup pada ekosisitem mengrove, fungsi yang lain sebagai daerah mencari makan (feeding ground) karena mangrove merupakan produsen primer yang mampu menghasilkan sejumlah besar detritus dari daun dan dahan pohon mangrove dimana dari sana tersedia banyak makanan bagi biota-biota yang mencari makan pada ekosistem mangrove tersebut, dan fungsi yang ketiga adalah sebagai daerah pemijahan (spawning ground) bagi ikan-ikan tertentu agar terlindungi dari ikan predator, sekaligus mencari lingkungan yang optimal untuk memisah dan membesarkan anaknya. Selain itupun merupakan pemasok larva udang, ikan dan biota lainnya.

Mangrove memproduksi nutrien yang dapat menyuburkan perairan laut, mangrove membantu dalam perputaran karbon, nitrogen dan sulfur, serta perairan mengrove kaya akan nutrien baik nutrien organik maupun anorganik. Dengan rata-rata produksi primer yang tinggi mangrove dapat menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang dan lainnya. Mangrove menyediakan tempat perkembangbiakan dan pembesaran bagi beberapa spesies hewan khususnya udang, sehingga biasa disebut “tidak ada mangrove tidak ada udang

Bukan sekadar kawasan konservasi tetapi Anda dapat pula melihat hewan-hewan yang masih pemalu dan reaktif. Bagi penggemar fotografi maka berburulah burung bukan untuk ditembaki tetapi ditangkap keindahannya dengan lensa kamera Anda. Apabila beruntung bisa saja bertemu burung langka endemik jawa yaitu bubut jawa (Centropus nigrorufus) dimana jumlahnya tidak lebih dari 10 ekor.

Suaka Margasatwa Muara Angke adalah rumah bagi beragam jenis burung, ikan, kepiting, kerang, buaya, udang, dan kera. Terdapat sekitar 91 jenis burung meliputi 28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan, 17 jenis di antaranya adalah jenis burung yang dilindungi. Ada pula monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) bergelantungan di pepohonan ditemani di bawahnya berbagai spesies reptilia.

Mengapa hutan mangrove atau hutan bakau begitu penting? Jenis hutan ini sangat unik karena gabungan tumbuhan darat dan laut. Ciri tumbuhannya memiliki akar menonjol yang dipengaruhi pasang surut air laut. Hutan mangrove sangat penting bagi kehidupan manusia karena berfungsi melindungi daratan dari terjangan ombak, mencegah abrasi, dan mencegah intrusi air laut jauh ke daratan.

Suaka Margasatwa Angke memegang peranan penting dalam pelestarian lingkungan sekaligus jantung hijau di pesisir Jakarta. Di sini pastikan Anda turut meresapi betapa pentingnya alam bagi manusia. Kawasan ini terancam oleh sampah yang mengalir di kali Angke dan melintas tepat di depan kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke.

Secara fisik kawasan konservasi suaka margasatwa muara angke ini dinilai masih sangat perlu untuk dilakukan perbaikan dan perawatan lebih lanjut karena ketika kita memasuki kawasan konservasi ini hal-hal seperti timbunan sampah, kerusakan sarana seperti jembatan sangat jelas terlihat sehingga menjadi nilai kurang bagi pengunjung. perlu adanya kesinambungan dari berbagai elemen yang terkait untuk melakukan perbaikan terhadap kawasan konservasi ini, agar kawasan ini dapat sarana edukasi yang menarik bagi para siswa dan pendidik serta menjadi kawasan konservasi yang menyeimbangkan ekosistem yang ada.

Melihat begitu besarnya peranan ekosistem mangrove atau bakau maka sangatlah penting untuk terus dikembangkan dan di kenalkan kepada para peserta didik, karena generasi muda yang ada saat ini kelak yang akan mewarisi bumi kita ini.

 

Sumber : Claridge dan Burnett,1993

Macnae,1968

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar